BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada dasarnya komunikasi data
berkaitan dengan transmisi sinyal-sinyal yang efisien dan andal, ini meliputi
diantaranya transmisi sinyal, media transmisi, interfacing antar lapisan dan
multiplexing. Kegunaan dasar dari sistem komunikasi data adalah menjalankan
pertukaran data antara dua pihak. Sebagai contoh adalah pertukaran
sinyal-sinyal suara antara dua telepon pada satu jaringan yang sama.
Secara umum sebuah sistem
komunikasi terdiri dari : sumber, pengirim, sistem transmisi, penerima, dan
tujuan.
Source (Sumber) : alat ini
membangkitkan data sehingga dapat ditransmisikan
Transmitter (Pengirim) : biasanya
data yang dibangkitkan dari sumber tidak ditransmisikan secara langsung dalam
bentuk sinyal aslinya. Sebuah transmitter cukup memindahkan dan menandai
informasi dengan cara yang sama seperti menghasilkan sinyal-sinyal
elektromagnetik yang dapat di transmisikan melewati beberapa sistem transmisi
berurutan.
Transmission Sistem (Sistem
Transmisi) : berupa jalur transmisi tunggal atau jaringan kompleks yang
menghubungkan antara sumber dengan tujuan.
Receiver (Penerima) : receiver menerima sinyal dari sistem transmisi dan
menggabungkannya ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh tujuan. Destination
(Tujuan) : menangkap data yang dihasilkan oleh receiver.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam paper ini terdapat beberapa
rumusan masalah yang coba penulis angkat diantaranya sebagai berikut :
1. Apa itu
sistem komunikasi data ?
2. Hal-hal
apa saja yang berkaitan dengan sistem komunikasi data ?
3.
Bagaimana
kemungkinan perkembangan sistem komunikasi data di masa yang akan datang ?
1.3
Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan paper ini dapat kami
bagi menjadi dua:
1.3.1
Tujuan Umum
1. Memberikan
penjelasan mengenai sistem komunikasi data
1.3.2
Tujuan Khusus
1.
Untuk memenuhi
tugas mata kuliah Dasar Sistem Komunikasi yang sedang kami jalani.
1.4
Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan paper ini adalah
sebagai berikut:
1. Mengetahui
apa itu sistem komunikasi data.
2. Mengetahui
manfaat dari adanya sistem komunikasi data
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Komunikasi Data
Di era 70-an dan 80-an telah
bergabung bidang ilmu computer dan komunikasi data yang secara besar-besaran
menjadi teknologi, produk, dan perusahaan-perusahaan yang sekarang
mengkombinasikannya dengan komuniksai computer. Meskipun akibat merger yang
revolusioner ini masih berjalan namun dapat dikatakan bahwah revolusi telah
terjadi, dan penelitian apapun yang berkaitan dengan data haruslah didasarkan
pada konteks yang baru ini.
Revolusi dalam bidang komunikasi
computer telah menghasilkan beberapa fakta sebagai berikut :
Tidak adanya perbedaan-perbedaan
yang fundamental antara data processing (komputer) dan komunikasi data
(perangkat switching dan transmisi).
Tidak adanya perbedaan yang
fundamental atau mendasar di antara komunikasi data, suara, dan video.
Dampak lainnya adalah adanya pengembangan sistem yang terintegrasi yang
dapat memproses dan mentransmisikan berbagai jenis data dan informasi.
Pengembangan teknologi dan standar-standar teknis juga membawa kearah sistem
publik yang terintegrasi sehingga memungkinkan terjadinya pengaksesan
sumber-sumber informasi dan data secara virtual dari seluruh dunia dengan lebih
mudah dan universal.
2.2 Transmisi Data
2.2.1
Konsep dan Terminologi
Transmisi data terjadi di antara
transmitter dan receiver melalui beberapa media transmisi. Media transmisi
dapat digolongkan sebagai guided dan ungaided, dimana pada kedua media
transmisi itu komunikasi berbentuk gelombang elektromagnetik. Dengan guided
media gelombang dikendalikan sepanjang jalur fisik, contoh: twisted pair,
coaxial cabel, fiber optik. Ungaided
media menyediakan alat untuk mentransmisikan
gelombang-gelombang elektromagnetik namun tidak mengendalikannya.
Sebuah transmisi dapat berupa
simplex, half duflex, atau full duflex. Pada transmisi simplex, sinyal
ditransmisikan hanya pada satu arah (satu station sebagai transmitter dan
lainnya sebagai receiver. Pada operasi half-duflex, kedua station dapat
mentransmisikan, namun hanya satu station pada saat yang sama. Sedangkan pada
operasi full duflex, kedua station bisa mentransmisikan secara bersamaan.
Sinyal-sinyal elektromagnetik
yang dipergunakan sebagai alat untuk mentransmisikan data dapat merupakan
sebagai fungsi waktu ataupun fungsi frekuensi.
Konsep Time-Domain
Bila dipandang sebagai suatu
fungsi waktu, sebuah sinyal elektromagnetik dapat berupa sinyal kontinu atau
discrate. Sinyal kontinu adalah sinyal di mana intensitasnya berubah-ubah dalam
bentuk halus sepanjang waktu atau dengan kata lain tidak ada sinyal yang
terputus. Sedangkan sinyal discrate adalah sinyal di mana intensitasnya
mempertahankan level yang konstan selama beberapa periode waktu dan kemudian
berubah ke level konstan yang lain.
Konsep Frekuensi-Domain
Pada kenyataannya sebuah sinyal elektromagnetik
dibentuk dari beberapa frekuensi. Contoh sinyal
s(t) (4 /
π) x (sin (2πft) + (1 / 3)sin(2π)(3f)t)
sinyal
itu adalah gelombang sinus dengan frekuensi f dan 3f; bagian (a) dan (b) dari
gambar tersebut menunjukkan komponen-komponen terpisah
Dari
gambar di atas dapat diambil dua kesimpulan :
v
Frekuensi
kedua adalah suatu penggandaan dari frekuensi pertama. Bila semua komponen
frekuensi dari sebuah sinyal adalah penggandaan dari satu frekuensi, frekuensi
berikutnya ditunjukkan sebagai fundamental frekuensi.
v Periode sinyal
keseluruhan setara dengan
periode fundamental
frekuensi.
Periode dari komponen sin (2πft) adalah T =
|
1
|
dan
|
|
f
|
|||
periode dari s(t) juga T,
sebagaimana yang dapat dilihat dalam gambar 2.2.2.c
Jadi dapat dikatakan bahwa untuk
setiap sinyal, terdapat fungsi time-domain s(t) yang menentukan amplitudo
sinyal pada setiap waktu tertentu. Hampir sama dengan itu, terdapat suatu
fungsi frekuensi-domain s(f) yang menentukan amplitudo puncak dari frekuensi
sinyal yang konsisten.
Spektrum sebuah sinyal adalah
rentang frekuensi di mana spektrum berada. Untuk sinyal pada gambar 2.2.2c,
spektrum memanjang mulai dari f ke 3f. bandwidth mutlak dari suatu sinyal
adalah lebar spektrum, pada gambar 2.2.2.c bandwidthnya adalah 2f.
2.2.2
Gangguan Transmisi
Dalam sistem komunikasi sinyal
yang diterima kemungkinan berbeda dengan sinyal yang ditransmisikan dikarenakan
adanya gangguan transmisi. Bagi sinyal analog gangguan ini dapat menurunkan
kualitas sinyal. Sedangkan bagi digital sinyal akan muncul bit error. Gangguan
yang paling signifikan adalah sebagai berikut :
v
Atenuasi
dan distorsi atenuasi
v
Distorsi
delay
v
Derau
Atenuasi
Atenuasi membawakan tiga
pertimbangan untuk membangun transmisi. Pertama, sinyal yang diterima harus
cukup kuat sehingga arus elektronik pada receiver bisa mendeteksi sinyal.
Kedua, sinyal harus mempertahankan level yang lebih tinggi dibanding derau yang
diterima tanpa error. Ketiga, atenuasi merupakan fungsi frekuensi yang
meningkat.
Permasalahan pertama dan kedua
berkaitan dengan perhatian terhadap kekuatan sinyal dan pengguanaan amplifier
atau repeater. Untuk hubungan
ujung ke ujung, kekuatan sinyal sebuah transmitter harus cukup kuat agar dapat
diterima dengan jelas, namun juga tidak perlu terlalu kuat agar tidak menimbulkan
overload pada sirkuit transmitter atau repeater yang bisa menyebabkan distorsi.
Permasalahan ketiga biasanya nampak jelas pada sinyal analog. Karena atenuasi
berubah-ubah sebagai fungsi frekuensi, sinyal yang diterima menjadi menyimpang
sehingga mengurangi tingkat kejelasan. Untuk menanggulangi masalah ini,
disediakan teknik untuk menyamakan atenuasi ini melewati band frekuensi.
Distorsi tunda
Distorsi tunda merupakan sebuah
fenomena khas pada media guided. Distorsi yang terjadi disebabkan oleh kenyataan
bahwa kecepatan penyebaran sebuah sinyal melewati medium guided berbeda dengan
frekuensi.
Derau
Derau adalah sinyal-sinyal yang
tidak diharapkan, dimana derau merupakan faktor utama yang membatasi
perpormance sistem komunikasi. Derau dapat dibagi menjadi 4 kategori:
v
Derau
suhu
v
Derau
intermodulasi
v
Crosstalk
v
Derau
impuls
Derau
Suhu adalah suatu gejolak thermal
elektron. Derau suhu secara
keseluruhan disebarkan sepanjang spektrum frekuensi dan sering juga disebut
sebagai white noise. Derau suhu tidak dapat dihilangkan dan muncul di semua
perangkat elektronik dan media transmisi. Jumlah derau suhu yang ditemukan
dalam suatu banwidth sebesar 1 Hz untuk segala jenis perangkat atau konduktor
adalah
N0 = kT (W
/ Hz)
Dimana :
N0 = kerapatan kekuatan derau dalam watt per 1 Hz bandwidth K = konstanta
Boltzmann = 1,3803 x 10-23 J / 0K
T = Temperatur, derajat kelvin
Derau intermodulasi akan
terjadi bila terdapat beberapa sifat tidak
linear pada transmitter, receiver, atau sistem transmisi yang menghalangi. Efek
dari derau intermodulasi akan menghasilkan sinyal-sinyal pada suatu frekuensi
yang merupakan jumlah atau kelipatan antara dua frekuensi asal atau kelipatan
dari frekuensi-frekuensi tersebut.
Crosstalk dialami oleh siapapun yang saat menggunakan
telepon, terdengar percakapan lain.
Ini merupakan kopel yang tidak diharapkan yang terjadi di antara path sinyal.
Biasanya crosstalk memiliki tingkat magnitudo yang sama atau lebih kurang dari
derau suhu.
Derau impuls terjadi
pada pulsa-pulsa yang tidak beraturan atau
terputusnya bunyi pada durasi pendek, serta dari amplitudo yang relative
tinggi. Derau impuls umumnya hanyalah gangguan kecil bagi data analog dan
biasanya disebabkan gangguan elektromagnetik eksternal, dan kesalahan serta
kerusakan dalam sistem komunikasi
2.3 Media Transmisi
Dalam suatu sistem transmisi
data, media transmisi merupakan jalur fisik diantara transmitter dan reciver.
Media transmisi untuk gelombang elektromagnetik yaitu Guided. Pada Guided ,
gelombang dipandu di sepanjang media yang secara fisik medianya sendiri tampak
kasat mata, misalnya twisted pair tembaga, coaxial cabel tembaga dan serat
optik.dengan mempertimbangkan desain sistem transmisi data, di tekankan pada
rate data dan jarak. Semakin besar rate data dan jarak , maka akan semakin
baik.sejumlah factor-faktor perancangan yang berkaitan dengan media transmisi
dan sinysl yang menentukan rate data dan jarak adalah:
1. Bandwidth
2. Gangguan
transmisi
3. interferensi
4. jumlah
reciver
Untuk Media Transmisi Guided,
baik dalam hal rate data maupun bandwidth, sangat tergantung pada jarak dan
sistem transmisi medianya dari titik ke titik ataukah multititik.
Tiga Guided media yang umumnya
dipergunakan untuk transmisi data adalah twisted pair, coaxial cabel dan serat
optic
2.3.1
Twisted pair
Twisted pair adalah media
transmisi guided yang paling hemat dan paling banyak dipergunakan. Sebuah
twisted pair terdiri dari dua kawat yang disekat dan disusun dalam suatu pola
spiral beraturan. Sepasang kawat bertindak sebagai satu jalur komunikasi
tunggal. Biasanya beberapa pasang kawat tersebut dibundel menjadi satu kabel
dengan cara di bungkus dalam sebuah sarung pelindung yang keras.
Media transmisi yang paling umum
untuk sinyal analok dan sinyal digital adalah twisted pair. Yang juga merupakan
media yang paling banyak digunakan dalam jaringan telepon setra bertindak
sebagai penompang untuk komonikasi didalam suatu banggunan gedung.
Karakter
transmisi titik ke titik dar Guided media
Rentang
|
Atenuasi
|
Dealy
|
Jarak
|
|||
frekwensi
|
khusus
|
khusus
|
repeator
|
|||
twisted pair
|
0 to 3,5 KHz
|
0,2 dB/km @
|
50 µs/km
|
2 km
|
||
(dengan
ioding)
|
1 KHz
|
|||||
twisted
|
pair
|
0 to 1 MHz
|
3 dB/km @
|
5 µs/km
|
2 km
|
|
(kabel
|
multi-
|
1 KHz
|
||||
pair)
|
||||||
coaxial cabel
|
0 to 500 MHz
|
7 dB/km
|
@
|
4 µs/km
|
1 to 9 km
|
|
10 KHz
|
||||||
serat optic
|
180
to 370
|
0,2 dB
|
to
|
5 µs/km
|
40 km
|
|
THz
|
0,5dB
|
|||||
Tabel
2.3.1
Coaxial cabel seperti halnya
dengan twisted pair terdiri dari dua konduktor, namun di susun berlainan untuk
mengatur pengoperasiannya melalui jangkauan frekwensi yang lebih luas . terdiri
dari konduktor selinder yang mengelilingi suatu kawat konduktor
tunggalkonduktor bagian dalam dibungkus baik dengan konduktor kawat jarring
maupun penyekat dalam. Konduktor terluar dilindungi oleh suatu selubung atau
pelindung. Karana pelindungan ini, dengan konstruksi bentuk melingkar, coaxial
cabel menjadi tahan terhadap interfrensi dan crosstalk dibandingkan dengan
twisted pair.
Coaxial cabel mungkin merupakan media transmisi yang paling bermanfaat
untuk macam keperluan serta dapat dipergunakan untuk berbagai jenis aplikasi.
Aplikasi yang penting adalah sebagai berikut:
1. Distribusi
siaran televise
2. Ttransmisi
telepon jarak jauh
3. Ppengubah
sistem computer jangka pendek
4. Llocal
area network
Coaxial cabel dipergunakan untuk mentransmisikan baik sinyal analog
maupun sinyal digital. coaxial cabel memiliki karateristik frekwensi yang lebih
baik di banding karateristik twisted pair. Karananya mampu dipergunakan dengan
efektif pada data dan frekwensi yang lebih tinggi.
2.3.3
Serat optik
Serat optik sangat tipis sekali, namun memiliki kemampuan tinggi memandu
sebuah sinsr optik. Serat optik terbuat dari berbagai jenis kaca dan plastik.
Sebuah kabel serat optik memiliki bentuk selinder dan terdiri dari tiga bagian
konsentrasi yaitu inti, caidding, dan selubung.salah satu terobosan dalam
transmisi data adalah pengembangan sistem komonikasi serat optik praktis
Berikut ini karateristik-karateristik yang membedakan serat optik dari twisted
pair ataupun coaxial cabel:
1. Kapasitas
yang lebih besar
2. Ukuran
yang lebih kecil dan bobot yang lebih ringgan
4. Isolasi
elektromagnetik
5. Jarak
repeateryang lebih besar
Kuntungan serat optik dibandingkan dengan twisted pair dan coaxial cabel
tampak lebih keliatan seiring dengan semakin meningkatnya permintaan untuk
trasmisi segala jenis informasi( baik suara, data, gambar, maupun video). Serat
optic mentrasmisikan berkas sinar cahaya yang ditanai sebagai sebuah sinyal
dengan memakai total internal reflection.
2.4 Interface Komunikasi Data
Transaksi suatu aliran bit dari
satu perangkat ke perangkat yang lain sepanjang jalur transmisi melibatkan
kerja sama dan kesesuaian antara kedua perangkat. Salah satu persyaratan
terpenting untuk itu adalah sikronisasi. Receiver harus mengetahui berapa rate
pada posisi dimana bit tersebut yang diterima sehingga dapat memeriksa jalur
pada interval reguler untuk menentukan nilai setiap bit yang diterima. Ada dua
teknik yang paling umum digunakan untuk tujuan ini. Pada transmisi
asynchronous, masing-masing karakter dapat diuperlukan secara terpisah. Setiap
karakter dimulai dengan bit awal yang akan memberi tanda pada receiver bila
sebuah karakter telah tiba. Receiver memeriksa setiap bit dalam karakter dan
kemudian mencari permulaan karakter berikutnya. Teknik ini tidak berhasil baik
untuk blok data yang panjang karena detak pada receiver kemungkinan tidak
sinkron dengan detak pada transmitter. Bagaimanapun juga, mengirim data dalam
blok besar tentunya lebih efisien daripada mengirim data per karakter pada
suatu waktu tertentu. Untuk blok yang besar, digunakan transmisi synchronous.
Masing-masing blok data dibentuk dalam bentuk frame yang mencakup tanda
permulaan dan tanda terakhir. Beberapa bentuk sikronisasi, misalnya penggunaan
pengkodean meachester juga dimanfaatkan dalam hal ini.
Sebagaimana yang bisa dilakukan
dengan perangkat I/O danjalur sinyal komputer internal. Dengan trasmisi seri,
elemen-elemen pensinyalan dikirim sepanjang jalur sekaligus. Setiap
elemen-elemen pensinyalan bisa berarti :
-
Kurang
dari satu bit : Dalam hal ini, contohnya, dengan pengkodean Manchester.
-
Satu bit : Contohnya, NRZ-L
digital dan FSK enalog.
-
Lebih dari satu bit : Contohnya
QPSK.
Untuk menyederhanakan pembahasan
selanjutnya, kita mengasumsikan satu bit perelemen persinyalan kecuali bila
yang sebaliknya yang dinyatakana. Pembahasan ini tidak secara langsung
dipengaruhi oleh simplifikasi ini.
2.4.1
Transmisi Asynchronous
Ada dua pendekatan yang paling
umum untuk mencapai sinkronisasi yang diharapkan. Pertama disebut transmisi
asynchronous. Strategi dalam skema ini adalah menghindari problem yang
berkaitan dengan waktu dengan cara tidak mengirimkan deretan bit yang panjang
dan tidak putus-putus. Jadi, data ditrasmisikan satu karakter sekaligus, dimana
setia karakter panjangnya lima sampai delapan bit. Waktu atau sinkronisasi
harus dipertahankan hanya didalam setiap karakter receiver memiliki peluang
melakukan sinkronisasi pada permulaan setiap karakter baru.
Bila tidak ada karakter yang
ditransmisikan, jalur diantara transmitter dan receiver dinyatakan dalam satuan
sidle. Definisi idle ekuivalen terhadap elemen-elemen pensinyalan untuk biner1.
Sehingga, idle berua adanya tegangan negatif pada jalur tersebut permulaan
karakter ditandai dengan satuan start bit dengan nilai biner 0. Ini diikuti
dengan lima sampai delapan bit yang sebenarnya merupakan karakter. Bit-bit
karakter ditransmisikan yang dimulai dengan bit yang sebenarnya signifikan
merupakan yang paling sedikit. Sebagai contoh, untuk karakter IRA, bit pertama
yang ditransmisikan adalah bit yang diberi label b1 dan tabel 3.1. Biasanya, bit-bit
data diikuti oleh sebut bit parittas, yang karenanya berada dalam posisi bit
yang aling signifikan. Bit paritas disusun oleh transmitter semacan itu. Jumlah
total bit-bit dalam karakter, termasuk bit paritas, bisa genap (paritas genap)
atau ganjil (paritas ganjil), tergantung ketentuan yang digunakan. Bit ini
dipergunakan oleh receiver untuk mendeteksi keselahan, sebagaimana yang dibahas
di Bab 7. Yang dimaksud dengan elemen akhir dalam stop elemen, yang berupa
biner 1. Panjang minimum untuk elemen akhir ditentukan, biasanya 1,15 atau 2
kali durasi bit biasa. Tidak adanya nilai maksimum juga ditentukan. Karena
elemen akhir sama dengan status idle, transmitter tidak akan terus
mentransmisikan elemen akhir sampai elemen akhir siap mengirimkan karakter
berikutnya.
Bila dereta karakter dikirim,
interval diantara kedua karakter tersebut menjadi seragam dan setara terhadap
elemen akhir. Sebagai contoh, bila elemen akhir sebesar satu bit waktu dan
karakter IRA ABC dikirim (dengan bit paritas genap), polanya adalah
01000001010010000101011000011111….1112). Bila awal (0) memulai deretan
waktu untuk sembilan elemen berikutnya, yang berupa 7-bit kode IRA, bit
paritas, dan elemen akhir. Pada status idle, receiver mencari transisi dari 1
sampai 0 untuk menandai permulaan karakter berikutnya dan kemudian memeriksa
sinyal-sinyal input pada satu bit interval untuk tujuan interval. Dilanjutkan
dengan mencari transisi 1 sampai 0 berikutnya, yang akan muncul tidka lebih
cepat dibanding satu bit waktu lagi.
2.4.2
Transmisi Synchronous
Dengan transmisi synchronous,
suatu blok bit ditransmisikan dalam suatu deretan yang cukup mantap tanpa kode
start dan stop. Panjang blok terdiri dari bit-bit yang begitu banyak. Untuk
mencegah ketidaksesuaian waktu diantara transmitter dan receiver, detak-nya
dengan cara apapun harus dibuat sinkron. Salah satu kemungkinannya adalah
dengan menyediakan sebuah jalur detak terpisah diantara transmitter dan
receiver. Salah satu sisi (transmitter maupun receiver) mengatur jalur secara
teratur dengan satu pulsa pendek per bit waktu. Sisi yang lain menggunakan
pulsa reguler ini sebagai detak. Teknik ini akan bekerja denganbaik untuk jarak
pendek, namun untuk jarak yang lumayan panjang pulsa detak akan menjadi sasaran
gangguan-gangguan yang sama seperti yang terjadi pada sinyal data, ditambah
labgi dengan adanya kesalahan dalam hal waktu. Alternatif lain, dengan
menyimpan informasi pewaktuan pada sinyal data. Untuk sinyal-sinyal digital,
hal ini bisa diperoleh dengan pengkodean Manchester atau Manchester
Diferensial. Sedangkan untuk sinyal-sinyal analog, terdapa sejumlah teknik yang
dapat dipergunakan misalnya frekuensi.
Konfigurasi Saluran
Dua karakteristik yang membedakan
berbagai konfigurasi penghubung data adalah topologi dan apakah penghubung
tersebut half duplex atau full duplex.
Topologi
Topologi penghubung data menunjuk
pada susunan station secara fdisik pada suatu media transmisi. Bila hanya
terdapat dua station (misalnya, sebuah terminal dan satu komputer atau dua
komputer) penghubungnya adalah dari ujung ke ujung. Bila terdapat lebih dari
dua station, maka berupa topologi multipoin. Biasanya, penghubung multipoin
dipergunakan bila station yang ada adalah sebuah komputer dan seperangkat
terminal (station kedua). Saat ini, topologi multipoin banyak ditemukan di
lingkup Local Area Network.
Biasanya, topologi multipoin
dimungkinkan bila terminal hanya melakukan transmisi dalam waktu yang singkat.
Gambar 6.3 menunjukkan penjelasan kelebihan konfigurasi
multipoin ini. Bila setiap terminal memiliki penghubung dari ujung ke ujung ke
komputernya maka komputer tersebut harus memiliki port I/O khusus untuk
masing-masing terminal. Juga terdapat penghubung transmisi yang terpisah dari
komputer kesetiap terminal. Dalam konfigurasi multipoin, komputer hanya
memerlukan port I O tunggal dan penghubung transmisi tunggal yang bisa
menghembat biaya.
Full Duplex dan Half Duplex
Perpindahan data melalui jalur
transmisi bisa diklasifikasikan full fuplex atau half duplex. Dengan transmisi
half duplex, hanya salah satu dari kedua starion pad ahubungan ujung ke ujung
yang bisa melakukan transmisi saat itu juga. Model ini juga menunjuka pada
two-way alternate, dimana dua station harus bergantian melakukan transmisi. Hal
ini bisa diibaratkan dengan satu jalur, dua jembatan. Bentuk transmisi semacam
ini sering dipergunakanuntuk interaksi terminal ke komputer. Sementara user
memasuki dan mentransmisikan data, komputer host berhenti mengirim data ke
terminal, karena bisa muncul di layar terminal dan menyebabkan kebingungan.
Sedangkan untuk transmisi full
duplex, dua stationt secara simultan mengirim dan menerima satu sama lain.
Sehingga model ini disebut juga two way simultaneous dan bisa diibaratkan
sebagai dua jalur, dua jembatan. Untuk perpindahan data dari komputer ke
komputer, bentuk transmisi ini lebih efisien dibanding transmisi half duplex.
Karakteristik
prosedural menentukan urutan kejadian dalam mentransimisikan data, didasarkan
atas karakteristik fungsional interface. Contoh-contoh yang berikut ini bisa
dijelaskan, hal ini.
Berbagai jenis standar untuk
mengiterfacean sudah tersedia. Bagian ini menyajikan dua diantaranya yang
terpenting yakni V. 24/FIA-232-F dan ISDN Interface fisik.
V.24/FEIA-232-F
Interface yang paling banyak
dipergunakan adalah interface yang dispesifikasikan dalam standar ITU-T, yaitu
V.24. Kenyataannya, standar ini hanya menentapkan aspek-aspek fungsional dan
prosedural dari interface, V.24 menunjuk pada standar-standar lain untuk
aspek-aspek elektrik dan mekanik. Di Amerika Serikat, terdapat spesifikasi yang
sesuai dan secara virtual hampir sama, dan meliputi keempat aspek, yakni
EIA-232-F.
-
Mekanik : ISO 2110
-
Lektrik : V.28
-
Funfsional : V.24
-
Prosedural : V.24
EIA-232-F pertama kali dikeluarkanoleh
Electroic Industries Alliance pada tahun 1962, sebagai RS 232. Diperbaharui di
edisi tevisi keenamnya sebagai EIA-232-F, yang dikeluarkan pada tahun 1997.
Speisifikasi terbaru V.24 dan V.28 masing-masing dikeluarkan pada tahun 1996
dan 1993. Interface ini digunakan untuk menghubungkan perangkat DTE ke modem
taraf suara yang dimasudkan untuk sistem telekomunikasi analog publik, serta
telah dipergunakan secara luas untuk berbagai aplikasi antar koneksi.
Spesifikasi Mekanik
Spesifikasi mekanik untuk
EIA-232-F diilustrasikan dalam gambar 6.5, yang memerlukan konektor 25-poin
ditetapkan dalam ISO 2110, dengan susunan petunjuk tertentu. Konektor ini berupa steker atau stop kontak pada
kabel dari DTE (misalnya, terminal) dan DCF (misalnya, modem). Pada prakteknya,
jauh lebih sedikit rangkaian pertukaran yang dipergunakan untuk sebagian besar
aplikasi yang ada.
Spesifikasi Elektrik
Spesifikasi elektrik ini
menentukan pensinyalan di antara DTE dan DCE. Pensinyalan digital digunakan
untuk semua rangkaian pertukarana. Tergantung pada fungsi rangkaian pertukran,
nilai-nilai elektrik diterjemahkan baik sebagai data biner ataupun sebagai
sinyal kontrol. Kesepakatan yang diambil menentukan bahwa, dengan memperhatikan
dasar-dasar yang umum, voltase lebih negartif dari -3 volt diterjemahkan
sebagai biner 1, sedangkan voltase yang lebih positif dari +3 volt
diterjemahkan sebagai biner 0. Ini adalah kode NRZ-L yang dijelaskan dalam
gambar 5.2. Interface ditentukan ratenya pada rate sinyal sebesar <20 kbps
dan jarak <15 meter. Rate data dan jarak yang lebih besar sangat mungkin
diperoleh dengan rancangan yang baik, namun harus hati-hari mengasumsikan bahwa
batas-batas ini bisa diterapkan dengan baik dalam teori sekaligus dalam prakteknya.
2.5 Multiplexing
Multiplexing memungkikan beberapa
sumber transmisi membagi kapasitas transmisi menjadi lebih besar. Ada dua
bentuk yang paling umum dari multiplexing yaitu Frequency-Division Multiplexing
(FDM) dan Time-Division Multiplexing (TDM).
Frequency-Divison Multiplexing
(FDM) bisa dipergunakan bersama-sama dengan sinyal analog. Sejumlah sinyal
secara simultan dibawa menuju media yang sama dengan cara mengalolkasikan band
frekuensi yang berlainan ke masing-masing sinyal. Diperlukan peralatan modulasi
untuk memindah setiap sinyal ke band frekuensi yang diperlukan, sedangkan
perlatan multiplexing diperlukan untuk mengkombinasikan sinyal-sinyal yang
dimodulasikan.
Time-Division Multiplexing (TDM)
dibagi menjadi dua macam yaitu Synchronous Time-Division Multiplexing dan
Statistical Time-Division Multiplexing. Untuk Synchronous Time-Division
Multiplexing bisa dipergunakan bersama-sama dengan sinyal digital atau
sinyal-sinyal analog yang membawa data digital. Pada bentuk muliplexing seperti
ini, data dari berbagai sumber dibawa dalam frame secara berulang-ulang. Setiap
frame terdiri dari susunan jatah waktu, dan setiap sumber ditetapkan bahwa
setiap framenya terdiri dari satu atau lebih jatah waktu. Efeknya akan tampak
pada bit interleave dari data berbagai sumber.
Sedangkan Statistical
Time-Division Multiplexing menyediakan layanan yang lebih efisien dibandingkan
Snychronous Time-Division Multiplexing sebagai pendukung terminal. Dengan
Statistical Time-Division Multiplexing, jatah waktu tidak ditetapkan terlebih
dulu untuk sumber-sumber data tertentu. Melainkan, data pengguna ditahan dan
ditransmisikan secepat mungkin menggunakan jatah waktu yang tersedia.
Aplikasi multiplexing yang umum
adalah dalam bentuk komunikasi long-houl. Media utama pada jaringan long-houl
berupa jalur gelombang mikro, koaksial, atau serat optik berkapasitas tinggi.
Jalur-jalur ini dapat memuat transmisi data dalam jumlah besar secara dengan
menggunakan multiplexing.
Gambar berikut ini, menggambarkan
fungsi multiplexing dalam bentuk yang paling sederhana. Terdapt input n untuk multiplexer. Multiplexer
dihubungkan ke demultiplexer melalui sebuah jalur tunggal. Saluran tersebuut
mampu membawa n channel data yang terpisah. Multiplexer menggabungkan data dari
jalur input n dan mentransmisikannya
melalui jalur berkapasitas tinggi. Demultiplexer menerima aliran data yang
sudah dimultiplexkan, kemudian memisahkan data berdasarkan channel, lalu
mengirimkannya kesaluran output yang tepat.
Penggunaan multiplexing secara
luas dalam komunikasi data dapat dijelaskan melalui hal-hal berikut ini :
Ø
Semakin
tinggi rate data, semakin efektif biaya untuk fasilitas transmisi. Maksudnya
untuk suatu aplikasi dan pada jarak tertentu, biaya per kbps menurun bila rate
data fasilitas transmisi meningkat. Hampir sama dengan itu, biaya transmisi dan
peralatan penerima per kbps menurun, bila rate data meningkat.
Ø
Sebagian
besar perangkat komunikasi data individu memerlukan dukungan rate data yang
relatif sedang-sedang saja. Sebagai contoh, untuk sebagian besar aplikasi
komputer pribadi dan terminal, rate data di antara 9600 bps san 64 kbps sudah
cukup memadai.
2.5.1
Frequency-Divison Multiplexing (FDM)
Frequency-Divison Multiplexing (FDM)
dimungkinkan bila lebar pita media transmisi yang digunakan melebihi lebar pita
yang diperlukan dari sinyal-sinyal yang ditransmisikan. Sejumlah sinyal dapat
dibawa secara simultan bila masing-masing sinyal dimodulasikan ke frekuensi
pembawa yang berlainan dan frekuensi pembawa cukup terpisah di mana lebar pita
sinyal secara signifikan tidak tumpang tindih. Contoh yang paling dikenal dari
FDM adalah siaran radio dan televisi kabel. Gambaran umum dari sistem FDM dapat
dilihat pada gambar di bawah ini.
2.5.2
Synchronous Time-Division Multiplexing
Synchronous Time-Division
Multiplexing memungkinkan bila rate data dari suatu media bisa melebihi rate
data dari sinyal-sinyal digital yang ditransmisikan. Sinyal-sinyal digital
lambat laun bisa dibawa melalui jalur transmisi tunggal melakukan interleaving
bagian-bagian dari setiap sinyal. Interleaving bisa dilakukan pada level bitatau
pada blok-blok byte atau dalam jumlah besar.
Synchronous Time-Division
Multiplexing disebut juga dengan synchronous tidak hanya karana mempergunakan
transmisi synchronous, namun
juga karena jatah waktu sudah ditetapkan terlebih
dahulu untuk sumber. Masing-masing jatah waktu untuk setiap sumber
ditransmisikan, baik sumber tersebut memiliki data untuk dikirim atau tidak.
2.5.3
Statistical Time-Division Multiplexing
Statistical Time-Division
Multiplexing memanfaatkan sifat transmisi data yang umum ini dengan sara
mengalokasikan jatah waktu secara dinamis sesuai permintaan. Sebagaimana dengan
Synchronous Time-Division Multiplexing, multiplexer statistik mempunyai
sejumlahi saluran I/O pada salah satu sisi serta saluran multiplexing
berkecepatan tinggi pada satu sisi yang lain.
Karena Statistical Time-Division
Multiplexing memiliki kelebihan yaitu perangkat yang terpasang tidak semuanya
melakukan transmisi sepanjang waktu, maka rate data pada saluran multilpex
menjadi lebih kecil dibandingkan dengan dari jumlah rate data dari perangkat
yang terpasang.
2.6 Trend Perkembangan Masa Depan
Bentuk komunikasi yang semakin
popular disebut sebagai spectrum penyebaran. Teknik spectrum penyebaran ada dua
jenis, yang pertama dikenal dengan nama lompatan frekuensi, dan versi terbaru
adalah spectrum penyebaran urutan langsung. Kedua teknik ini dipergunakan dalam
berbagai produk jaringan data tanpa kabel.
Pada skema diatas masing-masing
bit pada sinyal yang asli ditampilkan oleh bit-bit multipel pada sinyal yang
ditransmisikan, yang disebut sebagai kode tipis. Kode tipis yang menyebarkan
sinyal secara langsung sepanjang band frekuensi yang lebih luas sebanding
dengan jumlah bit yang dipergunakan. Oleh karena itu kode tipis 10-bit
menyebarkan sinyal sepanjang band frekuensi yang 10 kali lebih besar
dibandingkan kode tipis 1-bit. Patut dicatat bahwa bit informasi dari satu
membalikkan bit-bit pseudorandom dalam kombinasi tersebut, sementara bit
informasi nol menyebabkan bit-bit pseudorandom ditransmisikan tanpa mengalami
inversi. Kombinasi bit stream memiliki rate data yang sama dengan deretan
pseudorandum yang asli, sehingga memiliki bandwidth yang lebih besar dibanding
stream informasi.. Dalam hal ini stream informasi dan stream pseudorandom
bahkan dikonversikan ke sinyal-sinyal analog lalu dikombinasikan, bukannya
menunjukkan OR eksklusif dari dua stream dan kemudian memodulasikannya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari pembahasan – pembahasan yang telah diuraikan dan
berdasarkan sumber teori yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa semua
bentuk informasi dapat ditampilkan oleh sinyal-sinyal elektromagnetik.
Tergantung pada media transmisi dan lingkungan komunikasi, baik sinyal digital
ataupun sinyal analog dapat digunakan untuk menyampaikan informasi. Suatu
parameter kunci yang mengkarakteristiki sinyal adalah bandwidth, dimana semakin
besar bandwidth sinyal semakin besar pula kapasitas muatannya. Sehingga untuk merancang
sebuah fasilitas komunikasi harus memenuhi empat faktor : bandwidth sinyal,
rate data yang dipergunakan, jumlah noise dan gangguan-gangguan lainnya.
Saran
Seperti apa yang telah kami
paparkan mengenai sistem komunikasi data diatas. Maka menurut kami pengetahuan
akan sistem komunikasi data sangat diperlukan, sehingga nantinya dapat
menghasilkan model sistem komunikasi data yang lebih canggih dan lebih cepat
daripada yang ada sekarang ini.
DAFTAR PUSTAKA
Stallings,William.
Dasar-Dasar Komunikasi Data. Jakarta
: Salemba Teknika,
2001.
ELEKTRO
INDONESIA - Komunikasi Data.htm.
Telkom-2
- Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas
berbahasa Indonesia.htm. ELEKTRO INDONESIA - Teknologi dan Peluang Bisnis PCS.htm.







0 komentar:
Posting Komentar